Bagi sebagian orang, ketertarikan pada K-pop hanya sebatas hobi yang menyenangkan, menonton konser, mengikuti idol, dan menikmati tampilan visual yang selalu memukau. Namun, bagi Nadia Aldini Putri, mahasiswa vokasi Produksi Media di Universitas Indonesia, hobi itu menjadi pintu masuk menuju dunia profesional yang sama sekali baru.
Ketertarikannya pada dunia visual bermula dari rasa kagum terhadap industri kreatif Korea Selatan membangun branding artis dan estetika visual yang konsisten di setiap konsep. Ia tertarik dengan bagaimana desain mampu menyampaikan emosi, nilai, dan identitas hanya lewat warna, tipografi, serta komposisi gambar. Dari situlah Nadia mulai menyadari bahwa desain bukan sekadar soal keindahan, tetapi juga cara berkomunikasi yang kuat dan berpengaruh.
Awal Mula: Ragu, Tertinggal, tapi Tidak Menyerah
Saat kuliah, Nadia sempat berpindah fokus dari peminatan esports ke desain visual. Namun, perubahan itu tidak mudah. Teman-temannya sudah punya portofolio kuat, sementara Nadia merasa harus belajar dari nol lagi.
“Aku udah sempat pegang Adobe Illustrator, tapi masih belum terbiasa. Teman-teman udah jauh banget, aku ketinggalan,” ceritanya.
Kesadaran itulah yang membuat Nadia mencari tempat belajar yang bisa membantunya mengejar ketertinggalan sekaligus memperkuat dasar desain. Ia menemukan jawabannya lewat konten TikTok tentang Bootcamp Graphic Design Tempat Belajar.
“Aku lihat review di TikTok dan media sosial. Dari semua tempat, Tempat Belajar yang paling sesuai dengan kebutuhanku. Materinya lengkap, harganya masuk akal, dan ada penyaluran magang juga,” kata Nadia.
Pengalaman Belajar di Bootcamp: Dari Teori ke Portofolio Nyata
Selama mengikuti Career Accelerator Graphic Design Bootcamp, Nadia merasa menemukan ritme belajarnya. Materinya tidak hanya teknis, tapi juga membimbing peserta untuk berpikir seperti desainer profesional, bagaimana menerjemahkan pesan menjadi bentuk visual yang kuat.
“Aku suka banget bagian kita harus menerjemahkan pesan ke dalam bentuk visual. Rasanya kayak bisa ngobrol lewat gambar,” ujarnya.
Setiap tugas di bootcamp diarahkan untuk membangun portofolio profesional dan hal itu terbukti jadi bekal penting untuk Nadia. Setelah lulus, ia merasa jauh lebih percaya diri dengan karya dan proses berpikir kreatifnya.
Kesempatan Pertama: Magang di Pineapple Studio Malaysia
Tak lama setelah menyelesaikan bootcamp, Nadia mendapat tawaran magang dari Pineapple Studio, sebuah agensi desain asal Malaysia. Ia bekerja secara remote dari Indonesia sebagai Graphic Design Intern.
Di sana, Nadia bertugas mengadaptasi berbagai kebutuhan visual untuk brand kopi multinasional.
“Tugasnya mostly visual adaptation, dari materi yang sudah dibuat senior aku. Aku bikin versi untuk Instagram, Instastory, dan kebutuhan marketing lain,” jelasnya.
Meski sempat kesulitan dengan file desain berukuran besar, bahkan harus mengedit puluhan hingga ratusan GB file per hari, Nadia harus tetap semangat. Dukungan dari tim dan mentor di studio membuatnya terus berkembang.
“Awalnya sempat kaget, tapi timnya baik banget. Aku malah jadi belajar banyak dari sistem kerja profesional mereka” tambahnya.
Perjalanan Nyata dari Dunia Kerja Profesional
Bekerja dengan klien internasional membuat Nadia belajar hal-hal yang tidak ia temui di kampus. Ia jadi lebih peka terhadap detail visual, konsistensi branding, dan kecepatan kerja.
“Dari magang ini aku jadi tahu cara berpikir desainer profesional. Mereka presisi banget soal warna, layout, dan hierarki visual,” ungkap Nadia.
Selain itu, Nadia merasa pengalaman ini memperluas wawasannya tentang industri kreatif lintas negara. Ia jadi lebih siap menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti.
Hal yang Paling Berkesan dari Bootcamp
Bagi Nadia, hal terbaik dari bootcamp Tempat Belajar bukan hanya materinya, tapi juga cara mentor memberikan bimbingan yang realistis dan aplikatif.
“Mentornya sabar banget dan kasih insight yang bisa langsung aku praktikkan. Aku merasa setiap feedback bikin aku naik level,” ceritanya.
Transformasi Karier: Dari Mahasiswa ke Profesional Muda
Kini, Nadia bukan lagi mahasiswa yang merasa tertinggal. Ia sudah punya portofolio, pengalaman kerja lintas negara, dan kepercayaan diri baru.
“Dulu aku ngerasa skill-ku belum cukup. Sekarang, aku bisa bilang aku siap jadi desainer profesional,” katanya dengan senyum bangga.
Ingin Mengikuti Jejak Nadia?
Kisah Nadia Aldini Putri membuktikan bahwa tidak ada kata terlalu awal untuk memulai karier profesional, bahkan saat kamu masih di bangku kuliah. Dengan bimbingan mentor yang tepat, portofolio yang terarah, dan komunitas belajar yang suportif, setiap langkah kecil bisa membuka peluang besar.
Kalau kamu juga ingin mengubah passion menjadi profesi seperti Nadia, saatnya mulai langkah pertamamu bersama TempatBelajar.id.
Bangun portofolio, temukan arah kariermu, dan percaya diri untuk bersaing di industri kreatif.
