Tag: Business Developer

  • 4 Cara Mengevaluasi Strategi Marketing yang Wajib Dipahami Business Developer

    4 Cara Mengevaluasi Strategi Marketing yang Wajib Dipahami Business Developer

    Sebagai Business Developer (BD), tugas utama tidak hanya mencari peluang baru atau membangun kemitraan, tetapi juga memastikan strategi marketing benar-benar memberi dampak pada pertumbuhan bisnis. Banyak kampanye marketing yang terlihat menarik, visual bagus, konten viral, billboard besar. Namun, belum tentu memberikan kontribusi berarti terhadap revenue, akuisisi pelanggan, atau efisiensi biaya. Karena itu, BD perlu memiliki kemampuan untuk mengevaluasi strategi marketing secara objektif berbasis data. Evaluasi ini mencakup empat pilar utama, yaitu jangkauan, efektivitas, engagement, serta biaya & pelanggan. Keempat aspek ini membantu BD memahami cara marketing memengaruhi funnel bisnis dari atas hingga bawah.

    Artikel ini akan membahas cara mengevaluasi strategi marketing dari kacamata Business Developer, baik untuk Digital Marketing maupun Conventional Marketing.

    Kerangka Evaluasi Strategi Marketing untuk Business Developer

    Empat aspek berikut menjadi fondasi evaluasi marketing yang wajib dikuasai Business Developer. Setiap aspek dapat diukur dengan metode berbeda pada digital marketing dan kanal pemasaran konvensional. 

    Kerangka Evaluasi Strategi Marketing

    1. Evaluasi Jangkauan

    Jangkauan berfungsi untuk mengukur seberapa besar audiens yang terpapar kampanye marketing. Dari perspektif BD, ini penting untuk melihat apakah brand sudah menjangkau segmen pasar yang ditargetkan dan apakah potensi pasar mulai terbangun.

    Digital Marketing

    Pengukuran jangkauan digital sangat rinci dan berbasis data real-time, meliputi:

    • Reach → jumlah pengguna  unik yang melihat konten
    • Impressions → total tayangan konten
    • Website Traffic → berapa banyak yang masuk ke situs atau landing page
    • Search Volume → indikasi awareness berdasarkan pencarian brand

    BD dapat menilai apakah kampanye berjalan efektif untuk memperluas awareness dan apakah audiens yang dijangkau sesuai target. Misalnya, jika kampanye meningkatkan brand search volume sebesar 60% dalam dua minggu, itu menandakan meningkatnya minat pasar yang dapat diarahkan menjadi leads.

    Conventional Marketing

    Pada kanal konvensional,  jangkauan bersifat estimatif dan makro, menggunakan indikator seperti:

    • TV Rating → perkiraan jumlah penonton berdasarkan survei
    • Oplah (sirkulasi media cetak) → jumlah koran/majalah yang dicetak
    • Traffic Billboard → estimasi jumlah kendaraan atau pejalan kaki

    Meski tidak se-presisi digital, data ini membantu BD memperkirakan seberapa besar eksposur kampanye dan apakah kanal tersebut relevan dengan segmen pasar tertentu.

    2. Evaluasi Efektivitas 

    Efektivitas mengukur apakah kampanye mampu mendorong tindakan bisnis nyata. Misalnya klik, pendaftaran, pembelian, atau kontak sales.

    Digital Marketing

    Indikator umum mencakup:

    • CTR (Click-Through Rate
    • Conversion Rate 
    • ROAS (Return on Ad Spend

    Dalam konteks BD, angka ini membantu memastikan apakah traffic yang masuk relevan dan siap dikonversi oleh tim sales. Contohnya, jika conversion rate meningkat dari 1,8% menjadi 4,2% setelah optimasi landing page, BD dapat mengusulkan peningkatan anggaran untuk scale.

    Conventional Marketing

    Efektivitas pada kanal tradisional diukur melalui dampak langsung pada hasil bisnis:

    • Sales Uplift setelah kampanye
    • ROI dari TV, Radio, atau Billboard 

    Jika penjualan meningkat secara signifikan setelah kampanye TV, BD dapat mengidentifikasi wilayah yang potensial untuk ekspansi atau penetrasi pasar.

    3. Evaluasi Engagement

    Engagement menunjukkan seberapa tertarik audiens terhadap kampanye. Bagi BD, engagement membantu membaca market signals dan customer sentiments.

    Digital Marketing

    Engagement dapat dilihat dari hal berikut:

    • Likes, comments, shares
    • Video view duration
    • Interaction rate
    • Direct message (DM) response

    Engagement tinggi menandakan pesan kampanye relevan dan audiens memiliki minat kuat terhadap produk. Hal ini dapat menjadi indikator peluang untuk menciptakan penawaran baru, masuk ke segmen baru, atau meningkatkan hubungan dengan komunitas.

    Conventional Marketing

    Untuk kanal konvensional, engagement biasanya diukur melalui: 

    • Brand Awareness Survey
    • Customer Feedback Offline
    • Audience Recall Test

    Jika 70% responden dapat mengingat pesan utama iklan, BD dapat menilai bahwa kampanye tersebut cukup efektif dalam membangun brand recall.

    4. Evaluasi Biaya & Pelanggan

    Aspek ini sangat penting bagi BD karena berkaitan langsung dengan profitabilitas dan kualitas pelanggan jangka panjang.

    Digital Marketing

    Digital menyediakan data biaya yang detail dan jelas, seperti:

    • CPA (Cost per Acquisition)
    • CAC (Customer Acquisition Cost)
    • CLV (Customer Lifetime Value)

    BD harus memastikan bahwa CLV jauh lebih besar daripada CAC, idealnya minimal 3×. Misalnya, jika CAC Rp120.000 dan CLV Rp1.200.000, maka channel tersebut sangat layak untuk di-scale.

    Conventional Marketing

    Pengukuran biaya pada kanal konvensional biasanya berbasis total campaign:

    • Biaya TV/Radio/OOH
    • Kontribusi terhadap market share
    • Efektivitas biaya terhadap awareness

    BD perlu memastikan setiap biaya yang dikeluarkan memberikan dampak jangka panjang untuk brand dan penjualan.

    Penutup

    Bagi Business Developer, evaluasi strategi marketing adalah bagian penting dari pengambilan keputusan bisnis. Dengan memahami empat aspek utama yang meliputi jangkauan, efektivitas, engagement, serta biaya & pelanggan, BD dapat menilai kampanye marketing benar-benar mendukung pertumbuhan bisnis dan memberikan ROI terbaik.

    Kemampuan ini bukan hanya membuat BD lebih strategis, tetapi juga memperkuat kolaborasi dengan tim marketing dalam merencanakan kampanye yang lebih terarah dan berdampak.

    Ingin Menguasai Skill Business Development Secara Profesional?

    Jika kamu ingin mempelajari evaluasi marketing, market analysis, sales strategy, hingga business growth frameworks secara terstruktur, kamu bisa belajar langsung melalui program di TempatBelajar.id

    Program ini dirancang untuk membantu kamu menguasai skill BD yang paling dicari perusahaan, memahami strategi akuisisi & ekspansi pasar, membaca data marketing dengan tepat, membangun portofolio profesional, serta mempersiapkan diri masuk ke industri dengan percaya diri. Siap naik level sebagai Business Developer profesional? Saatnya mulai perjalananmu sekarang.

  • Teknik Mencari Peluang Bisnis Baru untuk Business Developer

    Teknik Mencari Peluang Bisnis Baru untuk Business Developer

    Dalam business development, kemampuan menemukan peluang bisnis baru adalah kunci pertumbuhan jangka panjang. Peluang tidak muncul begitu saja, Business Developer perlu membaca kondisi pasar, mendeteksi perubahan, memahami perilaku pelanggan, serta memanfaatkan teknologi dan tren yang berkembang.

    Dalam praktik industri, peluang bisnis biasanya muncul dari lima sumber utama, yaitu masalah, perubahan, penemuan baru, versi peningkatan, dan teknologi baru. Framework ini membantu Business Developer mengidentifikasi celah pasar yang bisa diisi, memvalidasi relevansi ide bisnis, dan menyusun strategi masuk pasar yang tepat.

    Teknik Mencari Peluang Bisnis Business Developer

    1. Peluang dari Masalah (Problem-Based Opportunities)

    Setiap bisnis besar hampir selalu berawal dari masalah nyata yang dialami pelanggan. Ketika sebuah segmen pelanggan mengalami hambatan yang konsisten, di situlah peluang tercipta. Contohnya adalah kemacetan, kesulitan mencari transportasi cepat, dan harga ojek pangkalan yang tidak konsisten menjadi pintu masuk munculnya layanan ojek online di Indonesia. 

    Seperti dijelaskan dalam Jobs to Be Done (Harvard Business Review, 2016), peluang terbaik berasal dari ‘pekerjaan’ yang harus diselesaikan klien yang muncul berulang dan belum terselesaikan dengan baik oleh solusi yang ada.

    Cara BD menggunakan pendekatan ini:

    • Lakukan wawancara pelanggan untuk menemukan pain point yang sering terjadi.
    • Amati masalah yang sering diabaikan pesaing.
    • Prioritaskan masalah yang bersifat urgent, frequent, dan costly (menghabiskan waktu/uang).

    Contoh modern:

    • Banyak UMKM kewalahan mengelola pembukuan, kemudian munculnya layanan pembukuan otomatis (contoh: BukuWarung).
    • Food & beverage kesulitan menarik repeat order, akhirnya muncul sistem CRM otomatis berbasis WhatsApp.

    2. Peluang dari Perubahan yang Terjadi (Change-Based Opportunities)

    Perubahan sosial, ekonomi, budaya, regulasi, dan teknologi selalu menghasilkan peluang baru. Digitalisasi dan penggunaan internet yang masif akhirnya memuluskan jalan lahirnya layanan pemesanan transportasi online. 

    Menurut laporan McKinsey Global Institute (2021), perubahan besar dalam perilaku konsumen yang dipicu oleh disrupsi global memiliki dampak akseleratif yang ekstrem, perubahan yang seharusnya memakan waktu satu dekade terjadi dalam hitungan bulan, sehingga melahirkan industri dan model bisnis baru.

    Jenis perubahan yang perlu diwaspadai BD:

    • Perubahan perilaku pelanggan. Contohnya, pelanggan lebih suka cashless → peluang bagi e-wallet & payment gateway.
    • Perubahan regulasi pemerintah.  Contohnya, aturan e-invoice → peluang bagi platform faktur digital.
    • Perubahan budaya kerja. Contohnya,  remote work → peluang coworking virtual, employee monitoring tools.

    3. Peluang dari Penemuan Baru (New Discovery)

    Penemuan baru tidak harus berupa inovasi teknologi besar. Terkadang hanya berupa cara baru atau pendekatan baru dalam memberikan layanan. Dalam contoh ojek online, “penemuan baru” adalah kemampuan memesan ojek secara daring, sebuah pendekatan yang sebelumnya tidak ada di Indonesia.

    Ciri khas peluang dari discovery:

    • Ada solusi baru yang lebih sederhana dari metode lama.
    • Mengurangi tahapan proses pelanggan.
    • Membuka pengalaman pengguna yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.

    Contoh modern:

    • ChatGPT mengubah cara orang melakukan pekerjaan administratif → peluang untuk workflow automation service.
    • Penemuan metode dark kitchen → peluang food brand digital.

    4. Peluang dari Upgrade Version

    Upgrade version berarti memperbaiki solusi lama menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah, atau lebih nyaman. Contoh jelas adalah transformasi dari ojek luring ke ojek daring, yang memperbaiki efisiensi, kecepatan, dan transparansi harga.

    Apa yang dicari BD dalam pendekatan ini?

    • Produk lama yang masih banyak pengguna tetapi kualitasnya stagnan.
    • Proses manual yang bisa diotomatisasi.
    • Industri besar tetapi penyedia layanan masih jadul.

    Contoh reminder BD:

    • Laundry → upgrade menjadi self-service + pickup-delivery.
    • Kursus bahasa → upgrade menjadi micro-learning via mobile apps.

    5. Peluang dari Teknologi Baru (New Technology)

    Teknologi baru selalu membuka pasar baru, baik memperkuat model bisnis yang sudah ada maupun menciptakan kategori baru sepenuhnya. Teknologi seperti mobile apps, tracking system, dan e-wallet menjadi pondasi lahirnya ekosistem transportasi online modern.

    Ciri teknologi yang melahirkan peluang baru:

    • AI & LLM → automatisasi customer service, sales automation, AI research assistant.
    • IoT → smart warehouse & asset tracking.
    • AR/VR → virtual showroom untuk properti & otomotif.
    • Blockchain → digital identity, supply chain transparency.

    Potensi teknologi ini sangat besar. PwC memprediksi bahwa AI akan menambah $15,7 triliun ke ekonomi global pada 2030, menunjukkan skala peluang bisnis yang tercipta dari inovasi teknologi digital.

    Cara Business Developer Menggabungkan 5 Sumber Peluang Ini

    1. Lakukan Market Scanning Mingguan

    Cek tren, berita industri, regulasi baru, dan perubahan pola konsumen.

    2. Mapping Peluang Menggunakan 5 Kategori Framework

    Buat daftar peluang berdasarkan problem, change, discovery, upgrade, dan technology. Lalu beri skor berdasarkan urgensi, besaran pasar, dan kesesuaian dengan kompetensi perusahaan.

    3. Validasi cepat (Rapid Market Validation)

    Gunakan survei mini, wawancara pelanggan, landing page test, dan MVP sederhana.

    4. Hitung ukuran peluang (Market Sizing)

    Gunakan metode top-down atau bottom-up.

    5. Buat rekomendasi strategis

    Tentuan go/no-go decision, prioritas segmen, dan strategi Go-to-Market.

    Penutup

    Business Developer yang unggul bukan hanya mengeksekusi strategi, tetapi mampu melihat peluang sebelum orang lain menyadarinya. Lima sumber peluang berupa masalah, perubahan, penemuan baru, upgrade version, dan teknologi baru adalah alat terstruktur untuk membaca dinamika pasar dan menemukan celah bisnis bernilai tinggi.

    Dengan menguasai framework ini, BD dapat menemukan ide bisnis lebih cepat, memvalidasi peluang berdasarkan data, menyusun strategi masuk pasar yang lebih presisi, dan membantu perusahaan tumbuh secara berkelanjutan.

    Ingin Menguasai Skill Mencari Peluang Bisnis Seperti Profesional?

    Jika kamu ingin mempelajari cara membaca tren pasar, menemukan peluang pertumbuhan, melakukan analisis kompetitif, menyusun strategi BD modern, dan memvalidasi ide dengan metode profesional, kamu bisa belajar langsung lewat program di TempatBelajar.id

    Keduanya dirancang bersama praktisi industri dan digunakan oleh perusahaan teknologi Indonesia.

  • Peran Riset Pasar bagi Business Developer: Fondasi untuk Mencari Peluang Pertumbuhan

    Peran Riset Pasar bagi Business Developer: Fondasi untuk Mencari Peluang Pertumbuhan

    Riset pasar adalah fondasi utama dalam business development karena menentukan arah, fokus, dan keberhasilan strategi pertumbuhan perusahaan. Bagi seorang Business Developer, riset pasar bukan sekadar aktivitas analisis, tetapi proses memahami realitas pasar yang menjadi dasar pengambilan keputusan strategis, mulai dari pemilihan segmen pelanggan, penyusunan fitur produk, hingga pembuatan strategi go-to-market.

    Tanpa riset pasar yang terstruktur, BD akan kesulitan mengidentifikasi peluang, menyusun prioritas, dan memvalidasi apakah suatu inisiatif bisnis benar-benar layak untuk dieksekusi. Riset pasar memberikan gambaran akurat mengenai kebutuhan pelanggan, tren industri, kompetisi, dan ukuran pasar, sehingga BD dapat menyusun strategi yang berbasis data dan bukan sekadar asumsi.

    Mengapa Riset Pasar Penting bagi Business Developer?

    Riset pasar mencakup pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan, profil target, dan kondisi pasar secara menyeluruh. Hal ini membantu BD menilai apakah pasar yang ditargetkan memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan dan bagaimana perusahaan bisa masuk secara efektif. Bagi Business Developer, riset pasar penting untuk beberapa hal berikut:

    1. Mengidentifikasi Peluang Pertumbuhan Baru

    Riset pasar membantu BD menemukan celah pasar (market gaps) seperti kebutuhan pelanggan yang belum terpenuhi, tren yang sedang berkembang, perubahan perilaku konsumen, serta peluang ekspansi berdasarkan geografi atau demografi.  BD menggunakan insight ini untuk mengembangkan produk baru, memperluas lini bisnis, atau masuk ke segmen yang lebih menguntungkan.

    2. Menentukan Target Customer dan Segmentasi Pasar

    BD harus bisa mengelompokkan pelanggan berdasarkan demografi, psikografi, perilaku, dan kebutuhan. Segmentasi yang tepat memungkinkan BD memilih segmen paling ideal (high-value segment) dan menyusun strategi akuisisi yang lebih efektif.

    3. Menilai Potensi Ukuran Pasar (Market Sizing)

    Riset pasar membantu BD melakukan market sizing menggunakan framework.

    • TAM (Total Addressable Market)
    • SAM (Serviceable Available Market)
    • SOM (Serviceable Obtainable Market)

    Dengan market sizing, BD dapat memperkirakan potensi pendapatan dan memprioritaskan pasar yang paling tinggi peluangnya.

    4. Memahami Kompetisi dan Posisi Perusahaan

    Riset kompetitor membantu BD menjawab pertanyaan kritis seperti, 

    • apa yang membuat perusahaan berbeda,
    • bagaimana produk dibandingkan dengan kompetitor,
    • strategi apa yang harus diterapkan untuk memenangkan pasar.

    Analisis kompetitor yang kuat menjadi dasar penyusunan value proposition, strategi pricing, dan pendekatan partnership.

    5. Memvalidasi Kelayakan Produk dan Strategi

    Riset pasar membantu BD memvalidasi inisiatif bisnis seperti,

    • apakah pelanggan benar-benar membutuhkan produk,
    • apakah harga sesuai kemampuan bayar,
    • apakah fitur yang direncanakan relevan,
    • apakah strategi G2M sesuai dengan perilaku pembeli.

    Validasi ini mengurangi risiko kegagalan produk dan mempercepat pertumbuhan.

    Jenis Riset Pasar yang Wajib Dikuasai Business Developer

    Jenis Riset Pasar

    Setelah memahami urgensi riset pasar, BD perlu mengenali jenis data yang harus dikumpulkan.

    1. Riset Pasar Primer

    Mengumpulkan data langsung dari pelanggan menggunakan wawancara, survei, observasi, dan user testing. Jenis riset ini paling relevan ketika BD ingin memvalidasi produk baru atau mencari insight mendalam tentang pelanggan.

    2. Riset Pasar Sekunder

    Mengumpulkan data dari sumber tepercaya seperti laporan industri, publikasi riset, data pemerintah, artikel analis, dan database pasar. Riset sekunder membantu BD memahami tren makro, kompetisi, benchmark, dan estimasi ukuran pasar.

    Kerangka Riset Pasar untuk Business Developer

    Untuk memastikan riset pasar sistematis dan relevan, BD dapat menggunakan kerangka berikut:

    1. Tentukan Objective Riset

    Contohnya, validasi produk baru, menentukan segmen prioritas, menilai potensi pasar, dan menganalisis kompetitor. Objective yang jelas mengarahkan metode dan data yang perlu dikumpulkan.

    2. Kumpulkan Data Pelanggan

    Gunakan wawancara terstruktur untuk menggali pain points, motivasi, kebutuhan, hingga preferensi harga. Pentingnya memahami kebutuhan pelanggan sebagai basis value creation.

    3. Analisis Kompetitor dan Landscape Pasar

    Perhatikan model bisnis. harga, saluran pemasaran, target market, keunggulan, dan kelemahan kompetitor. Analisis ini membantu BD memposisikan produk secara tepat.

    4. Lakukan Market Sizing

    Gunakan metode top-down (data industri → segmentasi → estimasi peluang) dan bottom-up ( jumlah pengguna × frekuensi penggunaan × harga). Market sizing yang akurat membantu BD membuat proyeksi revenue yang realistis.

    5. Susun Insight untuk Keputusan Strategis

    Hasil riset harus menjawab segmen mana yang paling menguntungkan, apakah produk layak diteruskan, strategi penetrasi pasar yang tepat, serta pricing model yang sesuai. Insight ini menjadi dasar business proposal atau pitch kepada stakeholder.

    Contoh Penerapan Riset Pasar oleh Business Developer

    Bayangkan sebuah startup edutech yang ingin meluncurkan produk pelatihan karyawan. Sebelum melakukan eksekusi, Business Developer melakukan riset pasar dan menemukan beberapa temuan kunci berikut:

    • 70% perusahaan mid-size membutuhkan pelatihan digital skill.
    • HRD lebih memilih paket untuk 20–50 karyawan karena lebih fleksibel dan mudah dianggarkan.
    • Willingness-to-pay rata-rata berada di kisaran Rp 1,5 juta per karyawan.
    • Kompetitor menawarkan paket pelatihan dengan harga Rp 1 juta–2 juta per karyawan.
    • Pasar Jabodetabek memiliki sekitar 3 juta pekerja di segmen yang relevan.

    Dari data tersebut, BD menyusun strategi sebagai berikut:

    • Menentukan target utama yaitu perusahaan mid-size dengan kebutuhan pelatihan digital yang jelas.
    • Mengembangkan paket bundling untuk 20–50 karyawan, menyesuaikan preferensi HRD dan struktur anggaran perusahaan.
    • Membangun partnership dengan platform HR untuk mempercepat distribusi dan akuisisi klien.
    • Menyusun proyeksi pendapatan menggunakan perhitungan SOM yang realistis sebagai dasar penyusunan business case.

    Contoh ini menunjukkan riset pasar yang terstruktur mampu mengubah data mentah menjadi strategi bisnis yang konkret dan dapat dieksekusi oleh Business Developer.

    Bangun Keahlian Market Research dan Business Development

    Untuk memahami riset pasar secara praktis dan menerapkannya dalam real-world case, kamu dapat mengikuti program di TempatBelajar.id

    ini mengajarkan market research, interpretasi data & market analysis, market segmentation, dan practical session, sesuai standar industri.

    Penutup

    Riset pasar adalah fondasi bagi Business Developer dalam memahami dinamika pelanggan, kompetisi, dan potensi pasar. Dengan riset pasar yang tepat, BD dapat menentukan peluang pertumbuhan, merancang strategi yang presisi, dan memberikan rekomendasi yang berdampak langsung pada arah perusahaan.

    Semakin matang kemampuan BD dalam membaca pasar, semakin besar kontribusinya terhadap keberhasilan jangka panjang bisnis.

  • Panduan Market Sizing untuk Business Developer

    Panduan Market Sizing untuk Business Developer

    Market sizing adalah keterampilan inti dalam business development yang membantu Business Developer memahami potensi pasar, menyusun strategi pertumbuhan, serta memperkirakan peluang pendapatan. Dalam proses market research, seorang BD membutuhkan analisis TAM, SAM, dan SOM untuk memastikan keputusan yang diambil berbasis data dan selaras dengan strategi go-to-market.

    Pemahaman yang tepat mengenai market sizing menentukan arah ekspansi, potensi revenue, kelayakan produk, hingga kekuatan pitch kepada manajemen atau investor. Karena itu, kemampuan menghitung TAM, SAM, dan SOM adalah fondasi penting dalam menyusun strategi business development yang efektif.

    Apa Itu Market Sizing?

    Market sizing adalah proses mengukur potensi suatu pasar dalam bentuk jumlah pengguna atau nilai ekonomi (revenue). Bagi Business Developer, market sizing membantu memperkirakan peluang pertumbuhan dan menentukan apakah sebuah pasar layak diprioritaskan. Terdapat 3 komponen inti dalam market sizing, yaitu:

    Mengukur Potensi Pasar

    1. TAM (Total Addressable Market)

    Ukuran total pasar jika produk kamu digunakan oleh semua orang yang berpotensi menjadi pengguna.

    2. SAM (Serviceable Available Market)

    Bagian dari TAM yang secara realistis dapat dijangkau oleh produk atau layanan berdasarkan lokasi, kebutuhan, atau regulasi.

    3. SOM (Serviceable Obtainable Market)

    Bagian dari SAM yang secara benar-benar dapat diperoleh (market share) oleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu.

    Framework ini digunakan oleh BD untuk memproyeksikan pendapatan dan memutuskan strategi prioritas pasar.

    Metode Market Sizing: Top-Down dan Bottom-Up

    1. Top-Down Market Sizing

    Pendekatan top-down dimulai dari data makro seperti laporan industri, riset pemerintah, atau publikasi global. Data besar tersebut kemudian disaring hingga menghasilkan estimasi pasar yang relevan dengan segmen perusahaan.

    Contoh:

    Jika nilai industri minuman kesehatan di Indonesia mencapai Rp 50 triliun dan segmen minuman rendah gula mewakili 20% dari total pasar, maka SAM = Rp 10 triliun. Pendekatan ini membantu BD memperoleh gambaran awal mengenai besarnya pasar sebelum masuk ke analisis yang lebih detail.

    Kelebihan:

    • Proses cepat dan lebih mudah dilakukan.
    • Cocok untuk tahap awal analisis pasar atau pitch awal.

    Kekurangan:

    • Estimasinya bisa terlalu umum.
    • Bergantung penuh pada akurasi dan relevansi data eksternal.

    2. Bottom-Up Market Sizing

    Pendekatan bottom-up menggunakan data dari level terkecil. Jumlah pengguna potensial, frekuensi penggunaan, dan harga rata-rata, lalu mengakumulasikannya menjadi total ukuran pasar. Metode ini biasanya paling akurat dan relevan untuk kebutuhan Business Developer.

    Contoh:

    Jika layanan katering sehat memiliki 10.000 pelanggan potensial dengan rata-rata 12 pesanan per bulan dan harga Rp 40.000, maka TAM = 10.000 × 12 × Rp 40.000 = Rp 4,8 miliar per bulan. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih realistis terhadap peluang pasar dan sangat berguna untuk perhitungan forecast pendapatan.

    Kelebihan:

    • Estimasi jauh lebih akurat.
    • Sangat relevan untuk penyusunan forecasting, business case, dan perencanaan G2M.

    Kekurangan:

    • Membutuhkan data primer seperti survei, observasi, dan wawancara.
    • Prosesnya lebih memakan waktu dan biaya.

    Pendekatan top-down dan bottom-up saling melengkapi. Seorang Business Developer idealnya menggunakan kedua metode untuk memastikan estimasi pasar lebih komprehensif dan keputusan strategis lebih terinformasi.

    Contoh Praktis TAM–SAM–SOM untuk Business Developer

    Untuk memahami cara kerja market sizing, berikut contoh studi kasus dari sebuah startup katering sehat yang ingin menilai potensi pasarnya di Jakarta.

    1. Menentukan TAM (Total Addressable Market)

    Jumlah pekerja kantoran di Jakarta mencapai sekitar 4,5 juta orang. Jika diasumsikan 20% di antaranya memiliki minat terhadap makanan sehat, maka terdapat 900.000 calon pengguna potensial. Dengan rata-rata 12 kali pembelian per bulan dan harga Rp 40.000 per porsi, total ukuran pasar adalah,

    → TAM = 900.000 × 12 × Rp 40.000 = Rp 432 miliar/bulan

    Ini menggambarkan ukuran pasar maksimal apabila seluruh pelanggan potensial menggunakan layanan tersebut.

    2. Menentukan SAM (Serviceable Available Market)

    Startup hanya beroperasi di Jakarta Selatan, dengan sekitar 200.000 pekerja yang relevan pada area tersebut. Dari jumlah tersebut, diasumsikan 25% merupakan segmen yang benar-benar health-conscious.

    → SAM = 50.000 × 12 × Rp 40.000 = Rp 24 miliar/bulan

    SAM memberikan gambaran pasar yang bisa dijangkau berdasarkan keterbatasan operasional dan segmentasi.

    3. Menentukan SOM (Serviceable Obtainable Market)

    Untuk tahun pertama, perusahaan menetapkan target pangsa pasar yang realistis sebesar 2% dari SAM.

    → SOM = 2% × Rp 24 miliar = Rp 480 juta/bulan 

    SOM adalah estimasi pendapatan potensial yang paling realistis dan dapat dicapai dalam waktu dekat.

    Perhitungan ini menunjukkan bahwa pasar katering sehat memiliki potensi besar, tetapi BD tetap membutuhkan pendekatan realistis untuk menentukan target jangka pendek. Framework TAM–SAM–SOM memberi Business Developer dasar kuat untuk menyusun proposal partnership, perencanaan ekspansi area, hingga penilaian kelayakan produk baru berdasarkan data yang terukur.

    Cara Business Developer Menggunakan Market Sizing

    1. Merumuskan Opportunity Mapping

    BD dapat memprioritaskan pasar berdasarkan ukuran peluang ekonomi dan tingkat kemudahan penetrasi.

    2. Menentukan Prioritas Segmen

    SAM & SOM membantu BD fokus pada pasar yang paling menjanjikan dibandingkan mengejar seluruh segmen tanpa arah.

    3. Membuat Forecast Revenue

    BD dapat memproyeksikan pendapatan berdasarkan SOM dan strategi akuisisi.

    4. Menjadi Dasar Strategi Go-to-Market

    Market sizing membantu BD menentukan positioning produk, strategi pricing, channel distribusi, dan kebutuhan partnership.

    5. Meyakinkan CEO/Investor

    Data TAM–SAM–SOM yang kuat akan memperkuat argumen BD dalam presentasi strategi atau pitch pendanaan.

    Bangun Skill Market Research & Market Sizing yang Dibutuhkan Business Developer

    Bila ingin menguasai market sizing, riset pasar, analisis kompetitif, hingga penyusunan strategi BD secara profesional, TempatBelajar.id menyediakan dua program yang relevan:

    Keduanya memberikan studi kasus langsung, termasuk market research & market sizing seperti yang digunakan perusahaan teknologi Indonesia.

    Penutup

    Market sizing adalah fondasi bagi Business Developer dalam menganalisis peluang pasar, menyusun strategi pertumbuhan, dan mengambil keputusan berbasis data. Dengan menggunakan framework TAM–SAM–SOM serta metode top-down dan bottom-up, BD dapat menilai ukuran pasar secara akurat dan membuat perencanaan bisnis yang kuat.

    Semakin terasah kemampuan BD dalam membaca pasar dan menganalisis data, semakin besar kontribusi strategisnya dalam pertumbuhan perusahaan.